INFRASTRUKTUR

Jaringan Jalan dan Jembatan

Pada tahun 2013, panjang jalan Kabupaten Siak menurut jenis permukaan jalan dari total panjang jalan yaitu sepanjang 2.880,19 Km, terdapat jalan aspal dengan panjang 839,97 Km dengan kondisi baik sepanjang 570,84 Km atau 19,82%, jalan kerikil dengan panjang 923,75 Km dengan kondisi baik sepanjang 175,05 Km atau 6,08%, jalan tanah dengan panjang 799,47 Km dengan kondisi baik sepanjang 83,69 Km atau 2,91%, dan jalan beton dengan panjang 317,01 Km dengan kondisi baik 130,54 Km atau 4,53%. Panjang jalan menurut kondisi dan jenis permukaan di Kabupaten Siak dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2013 dapat dilihat pada Tabel.

gbr16gbr17gbr17

Dari total panjang jalan Kabupaten Siak 2.880,19 Km, pembangunan jalan aspal dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2013 mengalami peningkatan sepanjang 150,626 Km atau sebesar 21,85%, jalan kerikil/base mengalami penurunan sepanjang 92,76 Km atau sebesar 9,13%, jalan beton mengalami peningkatan sepanjang 4,97 Km atau sebesar 1,59%, dan jalan tanah mengalami penurunan sepanjang 62,83 Km atau sebesar 7,29%. Perkembangan panjang jalan menurut jenis permukaan jalan di Kabupaten Siak pada tahun 2011 sampai dengan tahun 2013 dapat dilihat pada Tabel.

tabel8

Untuk meningkatkan kemudahan akses darat antar daerah di wilayah Kabupaten Siak yang dipisah oleh sungai telah dibangun beberapa jembatan, antara lain :

  • Jembatan Tengku Agung Sultanah Latifah di kota Siak Sri Indrapura – Mempura
  • Jembatan Sultan Syarif khasim di Kecamatan Tualang
  • Jembatan Raja Kecik di Kecamatan Sungai Apit – Sauh

Pembangunan infrastruktur jembatan di Kabupaten Siak hingga tahun 2013 sepanjang 8.637,50 meter atau meningkat sepanjang 285,05 meter dibanding tahun 2011 yaitu sepanjang 8.352,45 meter. Perkembangan panjang jembatan menurut jenis jembatan di Kabupaten Siak sampai dengan tahun 2013 dapat dilihat pada Tabel.

tabel9

 

Sarana dan Prasarana Perhubungan

Untuk meningkatkan akses trasportasi darat dan sungai dalam rangka mempermudah mobilitas baik orang maupun barang di Kabupaten Siak, Pemerintah Kabupaten Siak melakukan berbagai kegiatan pengembangan di sektor perhubungan melalui pembangunan sarana dan prasarana transportasi seperti pembangungan terminal dan pelabuhan. Pada tahun 2013 telah dibangun terminal bus sebanyak 2 (dua) terminal dan pelabuhan sungai sebanyak 2 (dua) pelabuhan. Jumlah pembangunan terminal bus dan pelabuhan sungai di Kabupaten Siak dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2013 dapat dilihat pada Tabel.

tabel10

Adapun jumlah izin trayek yang dikeluarkan oleh Dinas Perhubungan dan Infokom Kabupaten Siak untuk tahun 2013 sebanyak 13 izin yang keseluruhannya merupakan izin trayek pedesaan. Dalam rangka menekan lajunya angka kecelakaan lalu lintas, Pemerintah Kabupaten Siak dari tahun ke tahun mengadaan pemasangan rambu-rambu lalu lintas dengan jumlah yang terus meningkat. Untuk tahun 2013 jumlah rambu-rambu lalu lintas yang dipasang sebanyak 1.000 unit. Jumlah pemasangan rambu-rambu lalu lintas di Kabupaten Siak dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2013 dapat dilihat pada Tabel.

tabel11

 

Pelabuhan Tanjung Buton

 

Kondisi Eksisting

Pelabuhan Tanjung Buton akan dibangun di daerah Mengkapan Kecamatan Sungai Apit Kabupaten Siak yang berjarak sekitar 50 Km dari Kota Kabupaten Siak Sri Indrapura. Pada saat ini Dermaga Pelabuhan Tanjung Buton sudah dibangun dan masih dalam tahap penyelesaian untuk fasilitas lainnya.

Kondisi geografis Riau yang terdiri dari daratan dan sungai membuat industri pelayaran berkembang pesat. Salah satu kawasan industri dan pelabuhan yang berkembang adalah Pelabuhan Tanjung Buton, Kabupaten Siak. Apalagi sekarang aliran Sungai Siak yang biasa dipakai sebagai jalur pelayaran perlahan akan berubah menjadi jalur sungai konservasi paska diresmikannya jembatan Siak.

Berdasarkan rencana tata ruang dan wilayah Provinsi Riau, Pelabuhan Tanjung Buton telah ditetapkan sebagai outlet regional selain Dumai. Hal ini tentu saja ditunjang dengan letak Buton yang strategis. Pelabuhan Tanjung Buton memiliki akses yang baik ke arah internal dan eksternal, meliputi pelayaran menuju beberapa daerah di sepanjang pantai Sumatera, Batam, Riau Kepulauan, Singapura dan Malaysia. Selain itu, secara letak, kawasan Tanjung Buton berada di tengah. Buton punya daerah penyangga,—biasa disebut hinterland—yaitu Pelalawan, Bengkalis, Kampar, Siak, dan Taluk Kuantan.

Lokasi pelabuhan Tanjung Buton merupakan bagian dari areal yang akan dibangun suatu kawasan industri (Kawasan Industri Tanjung Buton/KITB). Hampir semua kawasan industri saat ini berada jauh dan terpisah dari pelabuhan. Hal inilah yang kemudian akan menyebabkan biaya industri itu sangat tinggi. Berkaca pada kebiasaan itulah, kawasan industri Tanjung Buton hadir dengan konsep mengeleminir cost produksi yang berlebihan dengan membangun kawasan industri yang dilengkapi pelabuhan.

Kawasan Industri Tanjung Buton akan dibangun dan dikembangkan di atas areal lima ribu hektar. Kriteria pemilihan lokasi didasarkan pada aksebilitas dengan masing-masing zona industry. Rencananya pembangunan KITB terbagi atas tiga tahapan. Pada tahap pertama diharapkan pada lahan seluas 300 hektar yang siap digunakan untuk industri dan memenuhi sekitar 30 persen kebutuhan permukiman di kawasan itu. Kemudian pada tahap kedua, infrastruktur dan prasarana dasar untuk mendukung lahan industri tersedia sekitar 1.500 hektar. Selanjutnya, pada tahapan terakhir, seluruh lahan seluas 5.000 hektar yang diperuntukan bagi KITB sudah siap dijual. Sementara lahan industri seluas 3.500 hektar di dalamnya juga sudah bisa beroperasi maksimal.

Pelabuhan Tanjung Buton ini diproyeksikan untuk menjadi pelabuhan multi purpose yang akan melayani lalu lintas kontainer, minyak sawit mentah (CPO), bahan bakar minyak, erta produk bubur kayu (pulp) dan kertas, yang diproduksi oleh PT Riau Andalan Pulp and aper (RAPP). Volume ekspor impor yang menggunakan pelabuhan ini diperkirakan 2,84 juta ton per tahun pada tahun 2010 dan diperkirakan   akan meningkat hingga 11,55 juta ton pada 20 tahun kemudian.

gambar6

 

Rencana Pengembangan Kawasan

A. PENGEMBANGAN TAHAP I
  • Jalan Masuk : jalan masuk terdiri dari 2 bagian yaitu dari arah pelabuhan dan arah darat, jalan ini bisa ditempatkan jaringan utama Air Bersih, Air kotor dan Telepon. Sedangkan Median dapat dimanfaatkan untuk menyiapkan jarigan distribusi tenaga listrik untuk supply kawasan secara keseluruhan.
  • Water Treatment Plant : Salah satu infrastruktur dasar yang akan selalu dibutuhkan selama pengembangan kawasan adalah fasilitas WTP. Kapasitas WTP yang dikembangkan dapat disesuaikan dengan luasan dan peruntukan kawasan yang akan dikembangan.
  • Dried Waste Processing (N) /Fasilitas pengolah Limbah kering dan Waste water Treatment Plant : Fasilitas ini sebaiknya dikembangkan bersamaan dengan pengembangan kawasan tahap I. hal ini dimaksudkan agar pengelolaan limbah yang terpadu dapat dilakukan sejak awal.
  • Fasilitas Pendukung, Salah satu Issue utama dalam pengembangan kawasan Ekonomi Khusus adalah adanya pelayanan Custom yang mudah dijangkau dan dekat. Dengan menyediakan fasilitas Custom/kepabeanan yang terintegrasi dengan kawasan maka kegiatan ekspor/Impor akan jauh lebih ringkas dan sederhana, dengan waktu yang singkat dan biaya yang murah dengan tidak mengabaikan sisi legalnya. Dengan demikian maka kawasan ini akan berkembang menjadi kawasan Industri yang Efisien dan ramah investor.
  • Fasilitas Keamanan : Hal lain dalam pengembangan kawasan yang relative baru adalah fasilitas pengamanan. Hal ini amat penting mengingat Investasi yang ditanamkan oleh para Investor nilainya besar dan setiap investor selalu saja mempertanyakan masalah ini kepada pengembang, sebelum menanamkan investasinya. Lokasi Fasilitas pengamanan yang berada di sekitar lokasi Pengembangan tahap pertama sesuai masterplan, sangat menguntungkan rencana pengembangan kawasan.
  • Power Station: merupakan sarana yang amat vital, yang paling menentukan dalam setiap pengembangan kawasan karena itu fasilitas ini perlu diadakan dengan kapasitas yang disesuaikan dengan rencana pengembangan tahap pertama.
  • Fuel Station : Fasilitas ini direkomendasikan untuk dibangun pada tahap awal sebagai support bagi transportasi dari dan menuju kawasan. Selain itu Fasilitas ini juga dapat menjadi Profit center awal yang akan sangat bermanfaat bagi perkembangan Kawasan secara keseluruhan.
  • Pemukiman Residential : Pada setiap pengembangan kawasan dimana akan melibatkan banyak tenaga kerja, maka fasilitas pemukiman akan sangat dibutuhkan agar para professional yang terlibat dapat tinggal dekat dengan lokasi pekerjaan. Namun untuk tahap pertama , pemukiman yang dibangun tidak tidak perlu menggunakan luas yang diperuntukkan cukup sebagian saja disesuaikan pada residential Cluter (Cluster J) dan 25% dari luas Medium Residential Cluster.
  • Public Transport : Perlu disediakan Public Transport yang dapat digunakan masyarakat umum, dan para pekerja Industri yang bekerja dalam kawasan. Hal ini perlu dilakukan untuk menghidupkan kawasan, sehingga suasana perkotaan dapat segera tampak, yang akhirnya akan men-trigger pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitar kawasan.

Pekerjaan Konstruksi dalam lingkup Pengembangan Tahap pertama, diperkirakan akan dapat diselesaikan selama 3 tahun, sedang pemasarannya diharapkan dapat diselesaikan dalam jangka waktu 5 – 7 tahun.

gambar7Gambar 7. Rencana Pengembangan KITB tahap I

 

B. PENGEMBANGAN TAHAP II

  • Rencana Pengembangan Pelabuhan Tahap I
  • Dry Port
  • Fasilitas Perkantoran KITB
  • Perkantoran Swasta
  • Perdagangan dan Jasa
  • Industri Keringan
  • Ruang Terbuka Hijau
  • Pusat Pelatihan/Laboratorium
  • Terminal KA

Pekerjaan konstruksi dalam lingkup pengembangan tahap II diperkirakan memerlukan waktu 3-5 tahun. Sedangkan pemasarannya diharapkan selesai dalam waktu kurang dari 10 tahun mengingat fasilitas yang tersedia sudah cukup mendukung.

gambar8

Gambar 8. Rencana pengembangan KITB tahap II

 

C. PENGEMBANGAN TAHAP III

  • Industri Penunjang Migas
  • Industri Baja
  • Pemadam Kebakaran
  • Pusat Pelatihan/Laboratorium
  • Industri Pengolahan Kertas
  • Agro Industri
  • Industri Pupuk
  • Industri Perikanan
  • Industri Keringan
  • Ruang Terbuka Hijau
  • Instalasi Pengolahan Limbah

Pekerjaan konstruksi dalam lingkup pengembangan tahap III diperkirakan memerlukan waktu 3-5 tahun. Sedangkan pemasarannya diharapkan selesai dalam waktu kurang dari 10 tahun mengingat fasilitas yang tersedia sudah cukup mendukung.

gambar9

Gambar 9. Rencana Pengembangan KITB tahap III

 

D. PENGEMBANGAN TAHAP IV

  • Industri Baja
  • Industri Agrowisata
  • Fasilitas Kesehatan
  • Fasilitas Peribadatan
  • Industri Hulu Sawit
  • Gedung Wahana Inovasi
  • Gedung Serbaguna
  • Permukiman Penduduk
  • Reservoir Air Bersih
  • Fasilitas Perkantoran KITB
  • IKM
  • Ruang Terbuka Hijau

Pekerjaan konstruksi dalam lingkup pengembangan tahap IV diperkirakan memerlukan waktu 3-5 tahun. Sedangkan pemasarannya diharapkan selesai dalam waktu kurang dari 10 tahun mengingat fasilitas yang tersedia sudah cukup mendukung.

gambar10Gambar 10. Rencana Pengembangan KITB tahap IV

 

E. PENGEMBANGAN TAHAP V

  • Multi Industri
  • Ruang Terbuka Hijau
  • Industri Pengolahan Sampah

Pekerjaan konstruksi dalam lingkup pengembangan tahap V diperkirakan memerlukan waktu 3-5 tahun. Sedangkan pemasarannya diharapkan selesai dalam waktu kurang dari 10 tahunmengingat fasilitas yang tersedia sudah cukup mendukung.

gambar11Gambar 11. Rencana Pengembangan KITB tahap V

 

Jaringan Air Bersih

Ketersediaan air bersih di Kabupaten Siak merupakan kebutuhan masyarakat yang sama pentingnya dengan ketersediaan listrik. Hal ini juga menjadi salah satu faktor pendukung minat investor untuk berinvestasi di daerah Kabupaten Siak. Saat ini ketersediaan air bersih di Kabupaten Siak masih rendah, hanya 59% dari total rumah tangga yang telah mendapatkan akses air bersih baik memanfaatkan air sungai, sumur bor maupun mata air. Berbagai upaya yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Siak untuk memenuhi ketersediaan air bersih bagi rumah tangga antara lain pembangunan sarana air bersih berupa Instalasi Pengolahan Air (IPA) di setiap kecamatan, memperbanyak jumlah sambungan rumah (SR) serta membangun sumur bor di desa. Hingga tahun 2013 telah dibangun IPA di 7(tujuh) kecamatan yang ada di Kabupaten Siak yakni Kecamatan Siak, Kecamatan Mempura, Kecamatan Sungai Apit, Kecamatan Minas, Kecamatan Tualang, Kecamatan Koto Gasib, dan Kecamatan Kandis.

Pada tahun 2014 direncanakan akan dibangun IPA untuk 3 (tiga) kecamatan, yaitu Kecamatan Sungai Mandau, Dayun dan Bunga Raya melalui Sharing Budget APBD Kabupaten Siak dengan APBN. Total Sambungan Rumah (SR) penerima air bersih hingga tahun 2013 berjumlah 6.030 sambungan atau bertambah 1.246 sambungan dibandingkan tahun 2011 yang berjumlah 4.784 sambungan. Jumlah proporsi rumah tangga yang telah mendapatkan akses air bersih di Kabupaten Siak dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2013 dapat dilihat pada Tabel dan jumlah sambungan rumah tangga penerima air bersih di Kabupaten Siak dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2013 dapat dilihat pada Tabel.

tabel12

 

tabel13

 

Jaringan Irigasi dan Pengairan

Pembangunan infrastruktur pengairan/irigasi untuk penunjang sektor pertanian yang menjadi prioritas utama dari visi dan misi Kabupaten Siak dalam rangka meningkatkan ekonomi masyarakat sampai dengan tahun 2013 terdiri dari bangunan pintu air sebanyak 168 unit, jaringan irigasi primer sepanjang 97.008 meter, jaringan irigasi sekunder sepanjang 270.348 meter dan jaringan irigasi tersier sepanjang 282.374 meter. Pembangunan infrastruktur irigasi di Kabupaten Siak dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2013 dapat dilihat pada Tabel.

tabel14

Selanjutnya dalam rangka mengurangi abrasi di Kabupaten Siak, hingga tahun 2013 telah dibangun turap sepanjang 9.039 meter dan bronjong sepanjang 8.592 meter. Untuk pengendalian banjir hingga tahun 2013 telah dibangun leoning sepanjang 58.786 meter. Pembangunan infrastruktur pengairan di Kabupaten Siak dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2013 dapat dilihat pada Tabel.

tabel15

Jaringan Sampah

Sumber utama timbunan sampah yaitu sampah domestik (rumah tangga) dan sampah non domestik yang meliputi sampah institusional (sekolah, kantor, dan lain-lain), sampah komersial (pasar, toko, dan lain-lain), sampah aktifitas perkotaan (penyapuan jalan, lapangan, dan lain-lain), sampah klinik, sampah industri, sampah konstruksi dan lain sebagainya. Pengelolaan sampah di Kabupaten Siak dilakukan oleh masyarakat baik perorangan maupun kelompok dan pemerintah daerah. Sistem pengelolaan sampah yang dilakukan oleh masyarakat dengan cara membakar, menimbun dan membuang sampah secara langsung ke tempat pembuangan sampah. Sedangkan pengelolaan sampah yang dilakukan oleh pemerintah daerah adalah melalui penyediaan tempat pembuangan sampah (TPS) sementara sebelum dibawa ke tempat pembuangan akhir (TPA). Kondisi persampahan di Kabupaten Siak dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2013 dapat dilihat pada Tabel.

tabel16